Peserta: 13 orang
Ciri-ciri orang dengan innerchild yang terluka:
- Merasa ada yang salah dengan dirimu
- Cemas setiap memulai sesuatu
- People pleaser
- Pemberontak dan berkonflik dengan orang lain
- Merasa tidak kompeten sebagai laki-laki/ perempuan
- Merasa sebagai pendosa
- Mengkritik diri
- Perfeksionis
- Tidak dekat dengan ayah/ibu
- Takut ditinggalkan
Materi yang disampaikan:
- Mengenal anak kecil dalam diri kita
- Reparenting
- Ruminasi
- Pengampunan
- Keterbukaan
- Ekspektasi realistis
- Self compassion
Mengapa materi ini penting
Mengenali diri kita dapat dimulai dari menyembuhkan luka masa kecil, dengan menerima masa lalu yang tidak menyenangkan dan memahami kejadian-kejadian di masa lalu akan membantu kita untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang akan terjadi di masa depan dengan lebih bijak. Adapun dampak lain dari materi ini, yaitu kesalahan-kesalahan dan rasa sakit di masa kecil kita tidak akan kita ulang atau pun kita lakukan kepada orang terdekat kita.
Kegiatan yang dilakukan
Dari awal penyampaian materi tentang anak kecil dalam diri, kita belajar mengenal kembali dan mengingat perlakuan yang kita terima saat kita masih kecil. Bersama psikolog, kita dituntun untuk mengingat kenangan masa kecil dengan menggambarkan beberapa ingatan pada selembar kertas. Dengan pembukaan ini, pemateri memberikan wawasan dan pengertian mengapa penting kita mengenali dampak perbuatan-perbuatan terutama yang tidak menyenangkan kepada diri kita semasa kecil.
Memahami perjalan diri kecil kita, kita jadi mengerti dampak emosi yang terbawa hingga kita dewasa. Dari situlah bersama-sama kelompok dan panduan dari pemateri, kita belajar beberapa teknik.
Teknik yang pertama adalah reparenting, yaitu menjadi sosok orang tua yang memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada diri sendiri, terutama diri kita yang kecil. Lalu, kita belajar menghentikan ruminasi dengan berdialog dengan diri kita menggunakan perspektif diri yang dewasa. Setelah itu, kita diharapkan terbuka dengan kejadian-kejadian masa kecil yang pahit tersebut dan menerimanya. Dengan praktik tersebut, diharapkan pada kita yang dewasa dapat memiliki ekspektasi atau harapan yang realistis tanpa pengaruh dari anak kecil dalam diri kita yang terluka.
Dalam sesi menemui kembali anak kecil dalam diri, kita beberapa kali hening bersama-sama dipandu oleh psikolog. Setelahnya, kita juga mendapatkan kesempatan untuk kembali menjadi anak kecil dengan bernyanyi lagu anak-anak bersama-sama. Sesi diakhiri dengan surat pengampunan terhadap diri sendiri dan melihat ulang gambaran yang diawal sesi dengan perspektif kita dewasa.
Beberapa cara praktis yang dapat dilakukan di rumah:
- Menulis surat pengampunan untuk diri sendiri
- Menghentikan ruminasi dengan berdialog dengan diri kecil kita menggunakan perspektif dari diri yang dewasa

